Scoping Report: Climate Friendly Economic Growth: An Opportunity for Indonesia (2016)

[Unduh Publikasi]

Indonesia sedang berada pada persimpangan jalan.  Setelah melalui krisis finansial Asia pada 1997-1998 dan kembali pada demokrasi, Indonesia memperlihatkan kemajuan yang mengagumkan, dengan pertumbuhan ekonomi 5,7 persen pada 2003 – 2012.  Saat ini, menghadapi ancaman pelambatan pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen, kebijakan ekonomi makro yang diambil adalah dengan melipatgandakan konsumsi pemerintah melalui penyaluran anggaran dan investasi infrastruktur.

Bila tidak berhati-hati, ada resiko bahwa infrastruktur baru — terutama yang padat karbon — yang seharusnya mempertahankan nilainya hingga akhir hayatnya, justru akan menjadi kewajiban (liability) jauh sebelum usia produktifnya berakhir, akibat beberapa faktor, termasuk kebijakan pembatasan emisi karbon, munculnya teknologi baru yang lebih baik dan lebih murah, atau tekanan dari masyarakat.  Di seluruh dunia, resiko aset terdampar (stranded assets) ini telah nyata, dan telah menyebabkan aksi divestasi besar-besaran oleh investor institutional dan perorangan.  Selain itu, teknologi ramah iklim ternyata makin murah dan baik, jauh lebih baik dari yang pernah diduga.  Bukti bahwa arah pembangunan yang tidak ramah iklim justru berdampak negatif pada ekonomi.  Kebakaran hutan dan lahan gambut akibat pengelolaan sumberdaya lahan dan hutan yang salah, membuat Indonesia menanggung kerugian Rp 221 triliun.

Bisa disimpulkan bahwa pembangunan ramah iklim adalah pembangunan yang efisien dan produktif.  Dengan demikian, pembangunan ramah iklim adalah arah pembangunan yang memperlihatkan kesempatan kepada Indonesia yang lebih baik.

 




Tweets


%d bloggers like this: