Sembilan Mekanisme Pertahanan Freud

@jaxx_romeo membawa saya pada Sembilan Pertahanan Freud pada saat kami membicarakan soal “rasisme” di Twitter.  Dia berpendapat bahwa rasisme adalah “manusiawi,” sementara saya mempertanyakan kesahihan pernyataan teoretis itu (karena, masa’ kecenderungan rasisme adalah “manusiawi?”).  Untuk menjawab pertanyaan itu, @jaxx_romeo menyarankan untuk merujuk kepada Sembilan Pertahanan Freud itu, yang membawa saya kepada article yang ditulis oleh Susan Krauss Whitbourne, Ph.D., Fulfillment at Any Age, dalam Psychology Today ini, .

Anna Freud

Anna Freud

Teori Sembilan Pertahanan Freud dilontarkan pertamakalinya oleh Anna Freud, anak perempuan psikoanalis terkenal Sigmund Freud, yang dikembangkannya sambil belajar dari ayahnya.  Teori ini diterangkan dalam bukunya The Ego and The Mechanism of Defense” (TAHUN).  Pendeknya, mekanisme pertahanan (defense mechanism) adalah reaksi seseorang untuk menghadapi dan merespons pada sebuah situasi yang tidak disukai, supaya tidak jatuh pada reaksi insting (dan, dengan demikian, lebih “manusiawi.”).  Mekanisme pertahanan ini juga melindungi seseorang dari kegelisahan dalam menghadapi kelemahan diri.

Sembilan Pertahanan Freud adalah sebagai berikut:

  1. Denial (penyangkalan).  Penyangkalan atau denial adalah tidak mau mengakui sebuah kenyataan, fakta, atau pengalaman buruk.
  2. Repression (represi).  Represi adalah upaya untuk melupakan atau tidak mengingat sesuatu kenyataan, fakta, atau pengalaman buruk.
  3. Regression (regresi).  Regresi adalah bersikap seperti anak kecil (yang memperlihatkan mekanisme pertahanan secara fisik), misalnya dengan berlindung di balik selimut saat sedang tidak nyaman.
  4. Displacement (pemindahan).  Pemindahan adalah memberikan respons bukan kepada pihak yang menyebabkan ketidaknyamanan.  Misalnya, membanting piring saat marah kepada suami, atau menendang kucing saat marah kepada boss di kantor.
  5. Projection (proyeksi).  Proyeksi adalah memproyeksikan kelemahan atau ketidaknyamanan seseorang kepada orang lain, seolah-olah orang lain itu yang memiliki kelemahan atau ketidaknyamanan, bukan dirinya sendiri.
  6. Reaction Formation (formasi reaksi).  Formasi reaksi adalah dengan memperlihatkan reaksi yang sangat berlawanan dengan keinginan sesungguhnya.  Misalnya, yang disitir oleh Psychology Today itu, jika seseorang suka sekali dengan pornografi, tetapi untuk menutupinya maka di depan umum akan memberikan kesan seolah-olah benci sekali dengan pornografi.
  7. Intellectualization (intelektualisasi).  Ini adalah memindahkan fokus perhatian dan “analisis” dari sebuah keadaan emosional menjadi logika, sehingga emosi tidak lagi menjadi pengganggu.
  8. Rationalization (rasionalisasi).  Rasionalisasi mirip dengan intelektualisasi.  Ketimbang mengakui, maka yang terjadi adalah mencari penjelasan alternatif mengapa sesuatu bisa terjadi, dengan tujuan untuk memindahkan tanggungjawab kepada sesuatu atau seseorang di luar dirinya.  Menuduh cara berpakaian perempuan sebagai penyebab perkosaan, misalnya, adalah salah satu contohnya.
  9. Sublimation (sublimasi).  Sublimasi mirip dengan intelektualisasi atau rasionalisasi, tetapi terjadi pada rentang waktu yang panjang.  Misalnya, pilihan karir sebagai kompensasi sebuah situasi yang tidak nyaman sebelumnya.

Apakah rasisme adalah sebuah mekanisme pertahanan?  Menurut @jaxx_romeo, iya.  Rasisme adalah sebuah proyeksi kelemahan (mekanisme no. 6) kepada pihak yang berbeda.  Rasisme adalah menyalahkan pihak lain, yang sering tidak ada hubungannya dengan kelemahan kita.  Kesimpulannya, rasisme adalah sebuah mekanisme pertahanan bagi mereka yang lemah, dengan memproyeksikan kelemahan itu kepada pihak lain yang, seringnya, tidak ada hubungannya.


About this entry