Costa Rica: Kebahagiaan di Tengah Hutan

costa rica forest map

Turrialba | Penduduk Costa Rica mungkin adalah masyarakat yang paling bahagia sedunia.  Paling tidak begitulah yang diclaim oleh Majalah TRVL. Costa Rica didudukkan pada urutan pertama dalam Happy Planet Index pada 2009 dan, lagi, pada 2012, menurut New Economic Foundation (NEF).  Costa Rica menduduki peringkat 69 pada urutan Human Development Index (HDI) dunia pada 2010.  Pada tahun 2010, UNDP menggarisbawahi betapa jauh Costa Rica mencapai HDI yang tinggi meninggalkan negara-negara lain yang serupa dan pada tingkat pendapatan yang mirip.

Costa Rica adalah satu dari sedikit negara di dunia yang tidak memiliki angkatan bersenjata.  Pada 1949, tentara dibubarkan secara konstitusional.  Mungkin kita perlu belajar dari kenyataan ini, bahwa negara-negara yang secara konstitusional tidak memiliki tentara (Swiss, misalnya, selain Costa Rica), penduduknya justru di antara yang paling bahagia sedunia.

Kesempatan untuk mengunjunginya, dengan demikian, tidaklah saya lewatkan.  Kesempatan ini hadir pada saat saya diundang untuk memberikan prasaran mengenai instrumen pendanaan REDD+ di Indonesia kepada sekelompok ahli finansial kehutanan dunia, dalam rangka peringatan ulang tahun CATIE (yang mungkin adalah sebuah lembaga penelitian kehutanan nasional terbaik dan terbesar sedunia.  CIFOR, yang berada di Bogor, Indonesia, adalah lembaga penelitian kehutanan internasional).

Costa Rican Forest

Bayangkan sebuah negara dengan luas wilayah darat 51.ooo kilometer persegi (km2), dengan penduduk sekitar 5 juta, diapit oleh Samudra Pasifik dan Samudra Atlantik.  Kemudian bayangkan ini: setengah daratannya ditutupi hutan. Setengah dari wilayah hutannya adalah taman nasional, sementara setengah lainnya adalah hutan yang dimiliki masyarakat.  Bayangkan betapa hijaunya negara ini.  Costa Rica menduduki peringkat kelima dunia pada 2011 dalam Environmental Performance Index (EPI) yang meranking negara-negara berdasarkan kinerja lingkungannya.  Pada 2007, Pemerintah mencanangkan rencananya untuk menjadikan Costa Rica untuk menjadi negara pertama yang carbon neutral (artinya yang emisi netto gas-gas rumahkacanya nol).

Betapa tidak, pada saat negara berhutan lainnya justru mulai kehilangan hutan dengan tingkat deforestasi yang cepat luar biasa, Costa Rica justru mengalami penambahan wilayah hutan.  Beberapa wilayah yang mengalami proses deforestasi memperlihatkan perbaikan yang luar biasa.  Ini, katanya, adalah karena di Costa Rica, hutan yang utuh dan hidup memiliki nilai yang lumayan tinggi, yang bersaing dengan nilai yang diberikan jika hutan tersebut rusak, mati, atau dialihfungsikan menjadi wilayah pertanian.  Tahun 2005 adalah titikbalik trend deforestasinya, pada saat Costa Rica membalikkan arah, dari trend berkurangnya hutan menjadi trend bertambahnya hutan.  Salah satu penyumbang terbesar dari terjadinya titik balik ini adalah payment for ecosystem services, atau imbal jasa ekosistem, dimana hutan yang hidup, yang memberikan jasa-jasa ekosistem, diberikan nilai moneternya, dan diberikan imbalan atasnya.  Dengan banyaknya hutan yang dipelihara dan dijaga, tidak heran bahwa pariwisata menjadi sektor ekonomi penting di Costa Rica.  Saat ini Costa Rica adalah negara yang paling banyak dikunjungi di Amerika Selatan, dan memberikan pendapatan sebesar $2,2 miliar.

Praktik imbal jasa ekosistem hutan inilah yang sedang saya pelajari, dan merupakan salah satu misi saya mengunjungi Costa Rica.

Sesegera setelah saya mendarat di San Jose, menjadi jelas kenapa penduduk Costa Rica bahagia.  Negara ini tidak memperlihatkan kekayaan yang berlebih.  Bangunan dan infrastrukturnya sederhana.  Tidak ada yang “terlalu kaya.”  Penduduknya ramah dan murah senyum.  Udaranya bersih.  Banyak pohon.  Di mana-mana pohon.  Sangat hijau dan teduh.  Sangat indah.

Banyak yang mesti dipelajari dari negara kecil satu ini.


About this entry