Macet? Kendaraan Umum, Dong!

#foked.  Ter-foke. Itu adalah teriakanku setiapkali terjebak dalam kemacetan Jakarta yang memang legendaris, memaki Gubernur Jakarta waktu itu, Fauzi “Foke” Bowo, yang saya anggap tidak becus mengatur kota metropolitan ini sehingga kemacetan menjadi sebegitu parahnya.  Sampai seseorang mengingatkan: “you are not stuck in traffic. You ARE traffic.”  Saya, adalah bagian dari permasalahan kemacetan. Saya, dengan demikian, harus menjadi bagian dari solusi kemacetan.  Tapi, bagaimana caranya?

Yuk, kita lihat dulu permasalahan lalulintas Jakarta hingga menjadi kusut seperti ini.  Tahun lalu, Koalisi Warga untuk Transport Demand Management (Koalisi TDM), yang dirumahi oleh Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menerbitkan sebuah Fact Sheet mengenai usulan “electronic road pricing,” dengan data-data yang menarik: pada 2010, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 6,7 juta unit, dengan komposisi kendaraan roda dua mencapai 4,3 juta unit dan roda empat mencapai 2,4 juta unit. Angka pertumbuhan kendaraan bermotor mencapai 0,7% – 0,8% per bulan atau 11% per tahun.  Menurut Koalisi TDM lagi, per hari seharusnya dibutuhkan tambahan jalan baru sepanjang hampir satu kilometer (km), berarti sekitar 250 – 300 km per tahun.  Total penambahan panjang jalan yang ada, setengahnyapun tidak.  Saat ini, area lahan kota Jakarta yang dialokasikan untuk jalan hanya 4 persen (menurut data dari pemerintah propinsi DKI, sekitar 6 persen), sementara idealnya sekitar 10 – 15 persen, bahkan di beberapa kota, 20 persen. Itupun, walau dengan kondisi angkutan umum yang lebih baik, masih macet juga.  Rata-rata kecepatan kendaraan di Jakarta adalah 10 km/jam, setara dengan kecepatan orang berlari-lari kecil.  Ini lebih rendah dari perkiraan Yayasan Swisscontact pada 2007 yang memperkirakan kecepatan rata-rata akan menjadi 16 km/jam pada 2012.  Lantas, apa yang mesti dilakukan oleh Jakarta?  Memperbanyak jalan raya?  Nggak dong.

Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) telah diminta untuk membantu memikirkan permasalahan transportasi jabodetabek ini, dan keluar dengan duapuluh langkah.  Di antaranya adalah penambahan serta perbaikan sarana transportasi umum, terutama mass rapid transit seperti kereta api.  Langkah-langkah pada hal-hal kecil yang mengganggu, seperti ketidaktertiban parkir, kendaraan umum liar, jalur busway yang tidak steril, juga ada.  Mekanisme “road pricing,” yaitu penggunaan jalan dengan sistem berbayar sesuai dengan penggunaannya, juga menjadi salah satu langkah yang diusulkan.  Perbaikan sarana dan prasarana jalan raya juga muncul sebagai salah satu langkahnya.

Pendapatku, permasalahan transportasi ini mesti ditangani sejak terjadinya kebutuhan atas mobilisasi: transport demand management.  Selalu, mobilisasi terbaik adalah tidak adanya kebutuhan mobilisasi.

Dekatkan tempat tinggal dengan tempat kerja dan berkegiatan lainnya. Untuk ini, perencanaan tataruang adalah hal yang mutlak harus direformasi dengan mengintegrasikannya dengan perencanaan sistem transportasi wilayah.  Di antaranya adalah dengan membuat wilayah multiguna, di mana satu wilayah kecil memiliki beberapa fungsi, termasuk fungsi perumahan dan fungsi perkantoran dan kegiatan lainnya.

Buat sistem telecommuting, cotelecommuting, serta ridesharing atau carpooling.  Beberapa perusahaan telah membolehkan stafnya untuk bekerja dari rumah (working from home, WFH) beberapa hari dalam sebulan.  Ini lumayan mengurangi kebutuhan mobilitas.

Selain itu, beberapa diantaranya melakukan cotelecommuting, dimana beberapa telecommuters bergabung di sebuah tempat bekerja bersama (coworking space).  Salah satu coworking space yang sedang dikembangkan di Jakarta, misalnya, adalah Comma, di One Wolter Place, Jl. Wolter Monginsidi 63B.  Sebuah tempat cotelecommuting adalah tempat seperti Comma, ditempatkan di daerah pemukiman.

Ride-sharing atau carpooling adalah mengajak beberapa orang dengan arah perjalanan yang sama untuk berkendara bersama.  Beberapa pihak telah dengan kreatif memfasilitasi ridesharing atau carpooling ini.  Salah satunya, seperti yang saat ini sedang dikembangkan oleh @__eas dan @putrisentanu, adalah nebengers.com.  Selain melalui website, mereka yang mencari dan menawarkan ridesharing juga bisa melakukannya melalui Twitter.

Perbaiki sistem kendaraan umum.  Ini adalah yang paling penting tapi paling susah.  Saya akan menulis satu artikel blog khusus mengenai masalah ini.  Tapi pendeknya adalah bahwa sistem kendaraan umum di Jakarta memang harus dibongkar habis dan dipasang ulang.  Permasalahan bukan hanya fisik dan infrastruktur yang memang sangat tidak memadai, tetapi juga model bisnis dimana operator kendaraan umum membayar sewa dalam bentuk setoran kepada pemilik, dan lain-lain.  Sebuah ide, yang akan saya tuliskan pada artikel lain di blog ini, adalah dengan membuat sebuah koperasi kendaraan umum sebagai platform pengembangan sistem kendaraan umum yang baru.

Perbaikan sistem fiskal, insentif dan disinsentif, yang berhubungan dengan transportasi.  Sepertinya, Jakarta dan Indonesia memang memberikan kemudahan untuk berkendaraan pribadi.  BBM murah, parkir murah dan mudah (apalagi dengan parkir informal di semua sudut kota), aturan mudah dilanggar.  Harga mobil yang jauh lebih mahal justru semakin menambah kemudahan berkendaraan, karena dengan biaya modal yang mahal itu, sekali kita memiliki mobil maka akan lebih mahal lagi kalau tidak menggunakannya sebanyak dan sesering mungkin.

Enam ruas tol baru: ya atau tidak?  Ironis ya.  Di satu sisi, banyak suara masyarakat yang menentang rencana pembangunan enam ruas tol baru.  Di sisi lain, seperti statistik yang ada di atas, proporsi wilayah Jakarta yang diperuntukkan untuk jalan kecil sekali, jauh dari standar layak kota-kota besar.  Apa yang mesti dilakukan, dong?  Sayangnya, pembangunan enam ruas tol ini mahal sekali.  Dan pemerintah propinsi bukannya punya terlalu banyak uang.  Oleh sebab itu, memang harus dibuatkan sebuah skala dan daftar prioritas, dan prioritasnya, seharusnya, bukan pada pengembangan infrastruktur jalan yang nantinya justru akan menambah jumlah kendaraan, tetapi mengurangi demand terhadap mobilitas, seperti telah disebut di atas itu.

Lupa dari mana, tapi ada sebuah kutipan yang bilang bahwa: sebuah negara kaya dan moderen bukanlah karena masyarakat miskinnya bisa memiliki dan menggunakan kendaraan pribadi, tetapi karena masyarakat kayanya menggunakan kendaraan umum.  Benar, ya?


About this entry